Sabtu, 09 Maret 2013

Inilah aku



INILAH AKU

Aku dilahirkan dari rahim seorang perempuan cantik yang kemudian kuketahui sebagai ibuku. Ibuku adalah isteri terakhir dari 4 isteri ayahku. Keberadaannya sebagai isteri ke 4 bukan karena ibuku mencintai ayahku sejak awalnya, tapi itu terjadi karena perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya, kakek nenekku.
Kehadiran ibu ditengah isteri-isteri ayahku yang lain ditanggapi dengan sangat dingin dan dengan pandangan yang sangat menghina. Sampai-sampai nenek (dari pihak ayah) tak mau mengakui aku sebagai cucunya. Aku dianggapnya anak kecil pembawa sial dan pembawa petaka bagi mereka. Ini bukan kata ibuku tapi akulah yang merasakan dan mendengarnya sendiri. Ayahku juga tak begitu baik menerima kelahiranku. Beliau tak pernah bersikapmanis padaku apalagi memanjakan aku sebagai anak. Aku merasa sangat tertekan dengan keadaan ini. Semua orang seperti memusuhi aku, kecuali ibuku. Aku sendiri tak habis mengerti mengapa semuanya seperti membenciku. Apakah karena aku tidak membawa keberuntungan seperti kata-kata yang sering kudengar dari mereka atau karena aku kecil lebih buruk dari yang lain? Sungguh aku tak tau.
Ayahku seorang yang sangat taat beragama. Beliau mendidik aku dalam beragama sangat keras. Sejak kecil aku sudah diwajibkan menjalankan puasa ramadhan secara full time oleh ayahku. Dan apabila aku terpaksa batal karena tak kuat menahan lapar maka aku akan diberi hukuman yang sangat menyakitkan. Ia juga mengajari aku tentang kejujuran. Suatu waktu aku pernah mencuri uang ibu sebesar 5 rupiah untuk kubelikan makanan. Begitu ayah tahu aku yang mencuri maka ia mengikat tubuhku dengan angkin/stagen ibuku dan ia gantungkan aku diatas bubungan rumah. Pelaksanaan hukuman beberapa menit sebelum ayah pergi ke surau untuk memimpin shalat tarawih. Saat itu usiaku sekitar 6 tahun. Aku ingat betul itu. Ayah mengancam ibuku, bila ada yang berani menurunkan sy dari bubungan rumah maka ibu yang akan digantung sebagai gantinya. Selepas shalat tarawih barulah aku diturunkan. Aku tak dapat lagi menangis karena air mataku sepertinya sudah terkuras habis sebelumnya.
Pernah juga aku diusir dari rumah karena sebuah kesalahan yang sudah tidak kuingat lagi. Ayah meletakkan pakaianku ditengah kebun samping rumah. Diatasnya ia letakkan uang sejumlah Rp. 90. Itu uangku hasil aku menjual jambu mete yang aku panjat sendiri dikebunku yang lumayan luas. Ayah memperhatikan aku yang bersembunyi dibalik pohon mangga selama berjam-jam. Aku terus menangis tak berani keluar dari balik pohon. Sesekali kulihat pakaianku yang ditumpukkan ayah ditengah kebun.
Kejadian lain yang masih kuingat adalah ketika aku pulang mandi di sungai di kampung Rawabengkel. Saat itu hari sudah menjelang senja. Ayahku sedang menggali tiang bendera di depan rumah untuk menyambut sepekan kemerdekaan Indonesia. Saat aku melintas di depannya ia ayunkan golok yang dunakan untuk menggali tiang bendera. Betisku terkena sabetan punggung golok ayahku. Seketika aku terjongkok menahan sakit. Aku merasakan  sakit yang luar biasa tapi aku tak berani menangis. Betisku bengkak karena punggung golok itu. Sebanrnya sebelum aku pulang aku hampir tewas tenggelam di kolam pinggir sungai. Kolam itu sangat dalam dan banyak sekali ikannya. Baju yang kukenakan terlepas dibawa lari ikan-ikan di kolam itu. Beberapa saat setelah aku kecebur aku tak merasakan apapun yang dapat kuinjak sebagai dasar kolam. Sangat dalam. Entah bagaimana Tuhan menolongku hingga aku selamat dari dalamnya kolam itu aku tak tau. Seperti ada yang mengangkat tubuhku dari dasar kolam.... dan trapp.., tanganku langsung memegang sebatang pohon yang tumbuh landai menyentuh permukaan kolam. Tak ada orang lain yang menolongku. Entah berapa banyak air kolam yang mengandung kotoran manusia dan ikan masuk kedalam lambungku. Aku mual dan muntah-muntah. Tiba di rumah disambut dengan punggung golok ayah. Esoknya aku sakit. Mungkin karena terkejut atau karena terlalu banyak meminum air kolam. Aku tak tahu...
Saat usiaku hampir 9 tahun Ayahku jatuh sakit. Berbulan-bulan ia menderita karena sakitnya. Ia sempat lama dirawat di Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta. Kemudian berobat ke seorang Tabib di Batuceper, Tangerang. Ibuku tengah hamil tua. Ibu menunggu ayah selama hampir sebulan di rumah Tabib. Sedang aku dan 3 orang adikku yang semuanya masih kecil” tinggal di rumah bersama nenek dari pihak ibu. Setiap hari sabtu, aku yang  berusia belum genap 9 tahun mengajak  adik-adikku menjenguk ayah. Selisih usia kami masing-masing dua tahun. Aku membimbing adik-adiku naik bus dari Cengkareng ke Batuceper, Tangerang. Semua orang di dalam bus heran karena kami semuanya anak-anak kecil tanpa ada yang membimbing untuk bepergian jauh. Ingatanku sangat kuat. Sehingga aku tidak takut salah turun atau kelewatan. Selalu aku berhentikan bus di tempat yang seharusnya ku turun. Alhamdulillah kami selalu selamat tiap kali menjenguk ayah. Dua adikku yang persis di bawah aku adalah perempuan. Adik nomor dua (perempuan) adalah anak kesayangan ayah. Dia sangat cantik, sama seperti ibu. Yang lainnya diperlakukan biasa saja. Hanya aku yang tidak pernah disapa ayahku. Dan aku juga tidak pernah memanggil ayah kepada ayahku. Aku tidak tahu mengapa sperti itu? Aku masih kecil sehingga tidak sempat menyelidiki mengapa aku tidak pernah memanggil ayah kepada ayahku.
Setelah beberapa bulan ayah dirawat di rumah Tabib, ayah minta diizinkan pulang ke rumah. Ayah di rawat di rumah isterinya yang nomor dua. Suatu ketika aku disuruh ibu membawakan buah apel besar-besar untuk ayah. Saat itu hujan sangat lebat dan angin kencang luar biasa.  Jarak rumahku dengan rumah isteri ayah nomor dua ada beberapa kilo meter, lumayan jauh. Baru separuh perjalanan yang kutempuh aku terhempas oleh angin, jatuh kecebur kedalam rawa kampung utan. Payung yang kupegang terbang dan jatuh mengambang. Aku berusaha berenang mengambil payung dan buah apel yang mengambang dipermukaan air rawa. Setelah itu kulanjutkan perjalanan untuk menjenguk ayah dan mengantarkan buah apel untuknya. Saat aku tiba dirumah ibu tiriku, aku masih basah kuyup, bibirku membiru dan gemetaran. Dingin akibat air rawa dan hujan membuat aku menggigil kedinginan. Aku berdiri diambang pintu kamar ayahku berbaring.tak ada kata yang bisa kuucapkan karena sejak dulu aku tak pernah memanggil ayah atau sebutan apapun pada ayahku. Ibu tiriku memberitahu ayah bahwa aku datang dan membawakan buah untuknya. Distulah untuk kali pertama ayahku menangis kemudian memanggilku dan mendekapku. Disitu pula untuk pertama kalinya aku memanggil atau menyebut ayah pada ayahku. Pertama dan untuk yang terakhir kalinya, sebab dua hari setelah itu ayahku tutup usia. Waktu itu ibu baru beberapa minggu melahirkan adikku. Praktis dia tak sempat mengenal wajah ayah yang tampan.

 Setelah ayah meninggal, aku harus tinggal dengan Nenek (ibunya ayah) dan ibu tiriku. Semua kami sangat menderita karena pensiun ayah belum selesai diurus. Kaami makan sangat seadanya. Nasi putih dengan petsin (seperti, sasa, ajinomoto) paling sering masuk kedalam perutku tanpa lauk yang lain. Nenek (ibu dari ayahku) sangat galak dan pemarah terutama terhadapku. Disinilah aku mendapat perlakuan yang sangat menyakitkan yang hingga aku setua ini tak dapat aku lupakan. Nenek tak mengakuiku sebagai cucu. Itu ia ucapkan ditengah tamu-tamunya dalam acara perpisahannya untuk berangkat haji ke tanah suci, tahun 1975. Berurai air mataku mendengar itu. Aku malu dengan semua orang yang hadir. Benarkah aku bukan cucunya? Lantas untuk apa sy harus tinggal dirumah ini bersamanya? Kesedihanku benar-benar tak terbendung lagi. Aku berlari sambil menangis dan membawa beberapa potong pakaianku. Sepanjang jalan aku menangis hingga aku tiba dirumah adik Nenek (dari pihak ibu). Aku tak dapat menjawab dengan baik ketika adik nenekku bertanya tentang apa yang menyebabkan aku menangis begitu rupa.  Setelah beberapa lama barulah dapat kuceritakan tentang ucapan nenekku yang sangat melukai itu. Aku minta diantar pulang untuk tinggal bersama ibu. Dan sempat kutanyakan sebenarnya aku ini siapa? Aku anak siapa? Adik Nenek ikut menagis bersamaku. Akhirnya ia bertekad merawatku, dan membiayai sekolahku. Ia memintaku untuk melupakan semua orang-orang yang telah membenciku. Aku setuju meski sampai sekarang aku tak mampu melupakannya.

Ketika aku duduk di kelas V SD, ibu memintaku pindah dan mengajakku tinggal bersamanya. Aku merasa senang sekali. Sebab ini yang aku inginkan sejak ayah meninggal dua tahun sebelumnya. Aku rindu ibu, rindu adik-adikku. Dari SD Cengkareng 01 Pagi, aku pindah ke SD Petir, kampung ibuku.Hidup kami sangat berat karena hanya ibu yang mencari nafkah. Ibu bersumpah ia tidak akan pernah menikah lagi dengan siapapun, kendati waktu ayah meninggal usia ibu baru 28 tahun. Masih sangat muda dan ibu adalah perempuan yang sangat cantik. Semua orang tau itu. Ibu berdagang, menjadi cingkao untuk membesarkan kami yang memang masih kecil-kecil. Bersama ibu ternyata aku sangat bahagia. Aku merasa bahwa aku adalah anak yang ia butuhkan untuk hadir ditengah-tengah adikku yang lain. Ia sering membanggakan parasku dan membandingkannya dengan anak-anak orang lain. Sebelumnya aku tak pernah merasa hidup sebagai manusia kecil, anak dari seorang ibu dan ayah, atau cucu dari seorang nenek. Aku seperti anak yang tidak pernah dilahirkan melainkan keluar dengan sendirinya dari celah bebatuan. Karena ketika itu tak ada yang mau menerimaku. Ibuku sangat taat pada ayah yang ketika itu sepertinya sangat membenciku. Aku merasakan bahwa ibu kini memberiku kehidupan.

Hari-hariku bersama ibu dan adik-adik kulalui dengan keadaan yang serba kekurangan. Bahkan kami pernah makan hanya berlauk garam yang digoreng dan diirisi bawang. Tapi ini jau lebih baik dibanding saat aku masih bersama ibu tiri dan nenekku. Meski hidup susah, aku tak lagi merasa tertekan. Setamat SD aku melanjutkan sekolah ke SMP. Sebagian temanku mengendarai sepeda untuk pergi pulang sekolah. Sedang aku harus berjalan kaki beberapa kilometer setiap harinya. Ibu juga tak mampu memberiku uang saku yang memadai. Bahkan aku sering tak mendapat uang saku karena ketiadaan ibu akan uang. Aku terima saja keadaan itu. Aku sering diberi uang dari teman-teman perempuan yang akrab denganku. Katanya mereka senang berteman denganku karena aku suka melucu.
Tak terasa aku sudah mulai besar. Tahun 1979 aku sudah duduk di kelas 2 SMP. Kata orang diusia itu seorang anak memasuki masa pubertasnya. Mungkin itu benar. Aku mulai merasakan ketertarikanku pada lawan jenisku. Seorang gadis SMP lain sempat menarik perhatianku. Ia sering menggodaku. Ketika itu aku masih sangat bodoh dan sering bersikap gegabah. Sampai suatu ketika aku mengiriminya surat cinta. Beberapa hari aku tak kunjung mendapatkan balasannya. Aku mulai resah sampai aku tau rupanya anak itu sudah ada pacarnya. Oooh... betapa aku sangat malu. Betapa aku sangat bodoh. Aku menyesali perbuatanku yang gegabah tanpa selidik. Hatiku terasa sakit. Perlahan-lahan rasa percaya diriku hilang. Aku merasa sangat terhina meski kutahu penolakannya mungkin karena ia ada pacarnya. Aku menafsirkannya dengan sudut pandangku yang berbeda. Aku merasa memang sangat tak pantas aku melakukannya. Aku merasa aku tak cukup mengenal diriku dengan baik. Aku tak tahu diri. Aku... semua yang merendahkan diriku kunyanyikan dalam hati. Hingga akhirnya aku tumbuh menjadi seorang remaja yang sakit secara mental dihadapan teman perempuan.

Di SMA, aku bersekolah di SMA Negeri 33 Jakarta, salah satu sekolah favorite di wilayah Jakarta Barat. Keadaanku yang serba susah makin membuatku tak mudah bergaul. Aku merasa aku harus berdiri terpisah dari siapa saja karena aku tidaklah sepadan dengan mereka. Sebenarnya mereka sangat menyukai candaku, dan kata-kata spontan yang meluncur lepas dari bibirku. Tapi tetap saja aku tak bisa bergaul rapat denganemua teman. Aku merasa sangat kecil bila dibanding dengan mereka. Di kelas 3 SMA, aku tak dapat kelas. Namaku tak tertera diabsensi kelas manapun. Setiap 1 minggu aku masuk di salah satu kelas 3 yang ketika itu ada 3 kelas pula. Diminggu ke 3 aku bingung namaku tak juga muncul di kelas yang terakhir. Tapi aku putuskan untuk tetap berada dikelas terakhir itu. Anehnya tak seorangpun guru yang menyinggung keberadaanku yang berpindah-pindah kelas. Dikelas terakhir, aku harus duduk bertiga dideret paling belakang. Terus terang ini bukanlah tempat favoritku. Aku lebih senang duduk dibaris tengah atau didepan. Tapi semuanya sudah penuh, yang tersisa hanya baris pinggir depan yang jarak pandangnya membuat silau. Dibaris pinggir itu duduk seorang siswi sendirian. Dia sangat cantik, mana berani aku duduk bersamanya dalam satu meja.
Suatu hari guru idolaku masuk dan memintaku untukmenuliskan catatan di papan tulis. Kebetulan aku dikaruniai tulisan tangan yang bagus sehingga bila aku menulis tak seorangpun yang komplain karena tulisan yang kurang jelas. Sebelum aku menulis, aku gantungkan tas kecil milikku dihandel pintu masuk. Tas kecil itu  kubuat sendiri dari karung terigu dan kutuliskan dengan tulisan yang kata orang lain, sangat lucu. Kutulis dengan spidol hitam permanent, KANTONG IKAN ASIN. Setiap ada yang keluar atau masuk kelas, tas itu ikut terbawa daun pintu. Mungkin ini menarik perhatian siswi cantik yang duduk seorang diri itu. Diam-diam ia mengambil tasku dan menyimpannya dilaci sebelah tempatnya menyimpan tas dan buku. Karuan saja selesai menulis di papan tulis aku mencari siapa yang telah mengambil tasku. Dia memanggilku dan memberi tahu bahwa tasku ada padanya. Aku mendekatinya bermaksud untuk mengambil tasku itu. Tapi ia mengajakku duduk disebelahnya. Aku tak dapat menolak. Aku gugup dan tak bisa berkata apapun. Sejak penolakan waktu SMP itu aku kehilangan rasa percaya diri yang hebat.
Lama-lama aku terbiasa duduk disebelah gadis itu. Dia sangat perhatian kepadaku. Bahkan dia sering membuatkan surat untuk sekolah manakala aku tak masuk karena ketiadaan ongkos. Ia juga sering menanyakan keberadaanku pada teman lain bila sudah waktu belajar aku belum berada dikelas. “eh, mana suami gue, lu ngeliat ga?”. Aku pernah mengkap basah ucapannya itu. Dia sangat malu padaku. Sebenarnya aku sangat menyukainya bahkan mungkin aku mencintainya. Tapi aku menahannya saja dalam hati karena aku berfikir bahwa aku bukanlah siapa-siapa. Sampai aku tamat SMA hasrat itu kusimpan rapat. Impian untuk menjadikannya kekasih tak pernah kusampaikan meski semua teman meyakinkan aku bahwa ia mencintaiku. Aku terkungkung oleh rasa rendah diriku yang parah. Hingga kini ia masih sering menayakan aku pada teman-teman saat reuni sekolah yang kebetulan aku tak pernah menghadirinya. Aku memang kurang bisa berada ditengah-tengah acara seperti itu. Sejak masa sekolah aku tak pernah hadir dalam undangan apapun. Teman-temanku ingin sekali aku hadir dipesta ulang tahun teman lainnya. Aku tak cukup percaya diri hadir ditempat seperti itu.

Setamat SMA aku bingung mau kemana dan ingin menjadi apa. Tak pernah terlintas sebuah keinginan untuk menjadi sesuatu. Hidup kulalui tanpa harapan dan cita-cita. Aku berfikir percuma saja cita-cita kugantungkan jika keadaanku seperti ini. Aku tak akan mampu meraihnya. Dan aku kasihan pada ibu yang mencari nafkah seorang diri. Tapi rupanya ibu berfikir lain. Aku harus menjadi seseorang. Maka diam-diam ibu membeli formulir untuk test masuk Perintis IV. Ia menitipkan uang pembelian formulir kepada sepupunya. Aku tak mau mengisinya. Aku tak mau kuliah. Sebab kalau aku kuliah maka masa-masa sulit seperti di SMA pasti kutemui lagi. Ibu tak menyerah begitu saja. Ia minta sepupunya untuk mengisikan formulir itu. Anehnya dari semua teman yang ikut test masuk hanya aku yang lulus. Aku lulus bersama 2000 calon mahasiswa baru dari 19000 peserta yang ikut.
Kujalani masa-masa kuliah dengan ogah-ogahan karena sesungguhnya bangku mahasiswa tidak pernah aku inginkan. Apalagi dengan keadaanku yang serba kekurangan. Selama kegiatan kuliah aku sering tidak makan karena uang yang ada disaku hanya untuk ongkos pulang. Bahkan aku sering berjalan kaki dari Cengkareng ke rumahku yang berjarak tak kurang dari 5 km, lantaran jalan macet dari Rawamangun  hingga aku harus terlambat tiba dicengkareng. Diatas jam 10 malam mobil angkot tak ada lagi yang beroperasi. Yang ada hanya becak dan ojek yang mangkal menunggu penumpanng yang kemalaman. Ongkos yang aku punya hanya ongkos angkot yang tak bisa digunakan untuk ongkos becak atau ojek. Berjalan kaki menjadi opsi satu-satunya buatku. Berjalan dalam keadaan lapar dan kelelahan sungguh sangat tak nyaman. Tapi itu harus aku lakukan.
Tiba di rumah sudah tengah malam. Ibu dan adik-adikku sudah tidur kelelahan. Kadang aku sedih karena sesampai di rumahpun tak ada makanan lezat yang dapat kumakan. Lauk seadanya dengan nasi yang sudah hampir basi. Beberapa saat aku duduk melepas lelah setelah perutku dirambahi makanan yang sejak pagi baru kujumpai. Tak ada yang harus aku sesali sebab aku tahu bahwa nafkah ini dicari oleh ibuku seorang diri.
Penyakit rendah diri yang menyerangku kian parah. Aku merasa asing ditengah-tengah orang lain. Penampilan mereka yang jauh berbeda dengan penampilanku membuat minderku semakin menjadi-jadi. Sepatu robek, celana yang tak pernah ganti, adalah perlengkapan yang membuatku tampil sangat berbeda dari teman lainnya. Bahkan entah berapa lama aku harus memakai sepatu hansip untuk mengikuti kegiatan kuliah. Temanku bilang aku eksentrik, aku nyentrik, padahal sesungguhnya aku tak menginginkan itu. Itu karena ketiadaanku.
Seorang gadis manis tertarik padaku. Bodoh sekali gadis itu. Dia tak tahu siapa yang ia sukai ini. Aku tak boleh membiarkannya hanyut dalam harapan yang ia bangun. Aku harus membangunkannya agar terjaga dari mimpi buruk itu. Dengan sedikit rasa sungkan kujelaaskan padanya tentang aku dan ketiadaan minatku untuk menjalin hubungan pada siapapun. Dia tidak terima. Dia merasa tersinggung dan terhina. Biarlah daripada dia harus meraih impian yang sangat tidak layak buat gadis terhormat dan bermatabat seperti dirinya.
Sebenarnya aku belum bisa melupakan gadis SMA teman sebangkuku. Tapi aku tetap tak memiliki keberanian sedikitpun untuk mengungkapkannya. Aku merasa tak layak juga baginya. Kubunuh semua rasaku. Kutindas semua mimpiku. Kini aku terus berjalan tanpa impian. Kosong... lengang tanpa nyanyian...
Aku tamatkan kuliahku tanpa kesan apapun. Tak pernah cinta singgah dihatiku. Perasaan yang akan tumbuh menjadi benih itu sudah terbunuh sebelum tunasnya keluar. Aku tak pernah mencicipi indahnya hidup berpacaran. Bukan aku tak ingin tapi kukira tak seorangpun yang sudi menerima cintaku yang berwarna kusam.
Setamat kuliah aku diminta mengajar di sebuah sekolah yang bernaung pada sebuah perguruan Islam. Disinilah aku menemukan perempuan yang bersedia menerima cintaku yang hampir usang. Cinta pertamaku yang langgeng hingga sekarang. Gadis itu adalah siswiku. Entah mengapa aku tertarik dengannya? Mungkin karena ia sangat cantik dimataku. Padahal ada beberapa siswi yang sempat kutangkap isyaratnya ketika itu. Aku memilihnya karena ia layak buatku. Tapi jujur saja aku lupa untuk memikirkan apakah aku cukup layak untuknya?
Setahun aku mengajar sampai akirnya aku harus meninggalkan sekolah itu dan gadisku. Perpisahan dipenuhi isak tangis siswa dan siswiku. Aku harus meninggalkan mereka ke tanah seberang. Aku diangkat sebagai PNS di SMP Negeri 2 Muara Tebo, Propinsi Jambi. Aku harus menerima konsekwensi ini karena aku penerima beasiswa ikatan dinas semasa kuliah. Dulu memang sempat terlintas dihatiku untuk pergi sejauh yang aku bisa. Aku ingin meninggalkan dan menguburkan semua kegetiran hidup. Aku ingin hidup dengan suasan baru ditempat yang baru. Tempat yang tak akan dikunjungi siapapun yang mengenal aku. Aku sempat bimbang karena janjiku pada seseorang yang ingin mengorbitkan aku menjadi seorang penyanyi. Ia sangat menyukai karakter suaraku. Dan ia yakin aku akan menjadi penyanyi besar. 12 lagu ia siapkan buatku. Aku sangat serius berlatih vokal dan menghafal lagunya. Tiba-tiba SK itu muncul dan melemparkan aku ke Jambi. Aku memohon petunjuk dan pertimbangan pada ibu yang telah membiayai kuliahku. Ibu menyerahkan keputusan sepenuhnya kepadaku. Ia sudah lepas dari kewajibannya sebagai orang tua atas kewajiban memberi pendidikan. Kini ia menyuruhku memilih jalan hidupku sendiri. Sebagai anak yang hendak menunjukkan baktinya, aku memilih berangkat ke Jambi. Aku ingin membahagiakan ibu yang sudah memberi modal pendidikan. Sementara orang yang ingin mengorbitkanku mencoba mencegahku untuk berangkat ke sana. Maafkan aku harus memilih jalan yang telah dibuat oleh ibuku.
Betapa keputusanku membuat orang itu frustrasi. Sejak ia mengenal aku, ia sudah melupakan kebiasaanya menenggak minuman. tapi sepeninggalku dia kembali akrab dengan alkohol, malah makin menjadi-jadi. Aku batal untuk dibesarkan menjadi seorang penyanyi pop. Aku memilih menjadi guru karena hidupku adalah untuk ibu.
Dua hari sebelum aku berangkat ke Jambi, aku melamar gadisku untuk membuktikan keseriusanku atas hubungan itu. Aku sudah menduga sebelumnya kalau lamaranku bakal ditolak oleh ayahnya. Sebab gadis itu sudah ia jodohkan dengan seorang kaya di kampung itu. Kakakku yang membawa pinangan itu merasa direndaahkan dan dipermalukan. Tapi  aku tetap sabar karena semuanya sudah aku bayangkan.
Sehari menjelang aku berangkat ke Jambi, kakaknya mengundangku ke rumahnya. Ataas nama ayah dan keluarganya ia meminta maaf padaku. Ia mempersilakan aku untuk melanjutkan hubungan jika aku masih berkenan. Cintaku sangat rumit dan berliku. Karena aku mencintainya maka permintaan maaf itu aku kabulkan. Dan hubungan aku lanjutkan.

Aku tiba di Kota Jambi sore hari, tanggal 28 November 1986. Aku berdua dengan teman kuliah yang juga ditempatkan disana. Ia bertukar cincin dengan kekasihnya menjelang berangkat ke Jambi. Itu ia ceritakan kepadaku. Dia ditempatkan di SMP Negeri Mendalo Darat, 13 km dari Kota Jambi arah Muara Tembesi. Menjelang maghrib kami masuk kejalan menuju hutan. Jalannya becek dan berlubang-lubang. Kami diterima oleh Kepala Sekolah yang kebetulan sedang mengerjakan sesuatu dihalaman dalam sekolah. 2 hari aku menginap di Mendalo baru kemudian temanku mengantarkan aku ke Muara Tebo. Nyaliku sempat ciut membayagkan tempat tugas seperti apa yang aku dapatkan. Mendalo Darat saja yang Cuma 13 km dari Kota Jambi terletak ditengah hutan, apalagi tempatku yang berjarak 180 km. 4 jam kami berada di Bus kecil menuju Tebo. Dan aku gembira ternyata SMP itu berada tepat dipinggir jalan Lintas Jambi. Temanku menginap untuk menemani aku selama 2 hari juga untuk membalasa jasaku. Setelah itu ia kembali ke Mendalo untuk tugas rielnya. Seperginya temanku aku baru merasakan betapa dusun ini sangat sepi dan gelap. Meleh air mataku menyaksikan hutan yang hitam terbungkus kelam. Selama ini aku tak pernah terpisah sejauh ini dari ibu. Aku teringat ibu dan adik-adikku.
Esok malamnya puluhan anak gadis dari dusun induk bertandang ketempatku menginap. Mereka berteriak dari luar dengan suara keras : “ ooo pak, keluarlah kamu tu,,, kamiko nak nengok kamu... kato urang kamu tu elok nian. Keluarlah pak e”. Aku takut mendengar seruan gadis-gadis itu. Aku mengintip dari celah papan rumah tempatku menumpang. Akhirnya aku keluar menemui mereka atas saran wakil kepala sekolah. Aku keluar dengan lampu teplok ditangan kananku. Subhanallah aku terkejut melihat wajah mereka yang berbalut bedak tepung berwarna putih tebal. Sungguh ini sangat menakutkanku. Mereka pulang dengan riang karena aku telah memperlakukan mereka dengan sikap yang ramah.
Kurang dari sebulan namaku sudah banyak dibicarakan orang-orang dusun itu. Mereka menganggapku orang yang elok rupo elok pulak perangainyo. Suatu malam aku dibawa ke dusun induk oleh seorang pemuda yang mengaku anak seorang imam di dusun itu. Ia ingin aku bertemu seseorang yang khusus datang dari Kota Jambi untuk mengenalku. Aku menemuinya dengan segenap rasa hormatku. Ia gadis cantik anak seorang pengusaha kayu gelondongan di dusun Sungai Keruh. Sebagai perantau aku bersikap hormat dan membuka diri pada siapapun. Rupanya sejak pertam melihatku ia jatuh cinta padaku. Ia selalu minta ditemui di rumahnya setiap malam. Kendati ia cantik aku tidak tertarik karena aku telah berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengecwakan gadisku di Jakarta. Kutolak ketika ia minta diantar kembali ke Kota Jambi atas alasan tugas dan pekerjaan.
Setelah itu bibi dan pamannya datang kepadaku untuk membujuk agar aku mau dengan kemenakannya itu. Ia menjanjikan memenuhi apa yang aku inginkan. Aku tetap menolak dengan alasan-alasan yang kuperhalus sedemikian rupa agar tak menyinggung perasaannya. Tetap saja mereka datang membujukku. Celakanya si gadis merasa bahwa aku telah menjadi pacarnya. Isue itu menggema memenuhi jagat seantero dusun Sungai Keruh. Aku kebingungan sekaligus takut bukan kepalang. Sampai akhirnya sebuah fitnah memutus upaya keluarganya mendekati aku. Fitnah seorang teman yang menginginkan gadis itu membawa keselamatan bagiku. Walaupun aku harus membayarnya hampir dengan nyawaku. Ibu gadis itu menulis surat untukku dan mencaci aku sebagai orang munafik yang membalut prilakunya dengan topeng ibadah. Kebetulan berkat kefasihanku membaca al-qur’an aku dipercaya menjadi khotib jumat dan sangat diandalkan untuk idul fitri dan idul adha. Selain itu aku juga mengajar ngaji anak-anak di dusun tempatku berdiam. Akibat shock dengan surat itu aku hilang kendali dan terganggu konsentrasiku. Diatas motor yang kupacu dari bumi perkemahan Sungai Gelam pikiranku berkecamuk tak ikhlas dengan cacimaki itu. Beberapa kilometer dari Muara Tembesi aku terjatuh dari motor dengan kaki terjuntai kejurang yang luar biasa dalam. Nyaliku hilang melayang melihat dasar jurang. Sekujur tanganku berdarah terkelupas. Aku berdua dengan suami kepala sekolahku. Ia tak mengalami lecet sedikitpun tapi keesokannya aku mendapat kabar tubuhnya mati sebelah kanan. Kudapati ibu gadis itu di dusun. Ia sangat terkejut dengan kedatanganku yang masih berlumur darah dikedua lengan. Aku jelaskan apa yang sesungguhnya pernah aku ucapkan. Alhamdulillah ia percaya dan dapat menerima penjelasanku. Belakangan aku malah dianggapnya sebagai anak angkatnya. Alhamdulillah.

Tahun 1990 aku kembali ke Jakarta dan menikahi gadis yang telah kutinggalkan selama 4 tahun. Tanpa pesta kami melalui hidup baru itu. Sampai saat itu aku masih tak biasa dengan suasana pesta. Makanya aku tak mau ketika ibu gadisku berniat pesta atas pernikahan kami.15 hari setelah menikah aku kembali ke Jambi seorang diri. Ini aku lakukan karena aku harus menyediakan tempat tinggal yang dapat kami sewa untuk kami sebagai keluarga. Sebulan setelah itu aku kembali ke Jakarta untuk memboyong isteriku ke Jambi. Ia terkejut dengan suasan sepi dusun dipinggir hutan. Ditambah lagi dengan rumah dinas guru yang sangat kecil yang hanya berisi tempat tidur kayu yang kubuat atas petunjuk teman. Kasur kapuk kuisi sendiri setelah belajar dari temanku. Tak ada lemari pakaian, tak ada meja tulis atau meja untuknya merias diri. Sangat memprihatinkan.

Satu setengah tahun sejak kami menikah tibalah musim kemarau panjang. Selama 7 bulan tak pernah turun hujan setitik jua. Orang dusun menyebutnya kemarau asap karena alam senantiasa diselimuti kabut asap yang tebal. Jarak pandang tak labih dari 5 m. Isteriku sedang hamil anak pertama. Kasihan sekali ia nampak pucat karena kurangnya gizi dari makanan yang dapat kami temui. Tak ada sayuran, tak pula ada ikan sungai batanghari yang kerap kami makan. Kemarau asap ini telah melumpuhkan semua orang.
Aku membonceng isteriku yang hendak melahirkan. Diatas bagasi sepeda tua yang aku pinjam ia merintih kesakitan karena terguncang oleh jalan berlubang. Waktu itu aku sedang mengecat sekolah demi sedikit upah tambahan yang sangat aku butuhkan. Isteriku melahirkan ditangan orang yang bukan ahlinya. Ia hanya seorang perawat di Puskesmas Pembantu dekat sekolah tempatku mengajar. Ia bukan bidan. Aku ikut membantu proses persalinan itu. Anak lelakiku talah lahir dalam keadaan serba kekurangan. Isteriku trauma atas proses persalinan yang sangat menyakitkannya. Aku sendiri merinding kalau harus mengingat itu.

Aku membeli sebidang tanah yang lumayan luasnya dan siap dirumahkan. Semua kebutuhan sudah aku beli untuk menjadi sebuah rumah mungil berbahan dasar papan. Kusen pintu dan jendela kubuat sendiri dengan model mutakhir yang sedang trend di Jakarta. Saat itu aku sudah mahir membuat perabot rumah dan lainnya. Setiap pulang dari sekolah kubuat kusen itu sampai jadi sebanyak dua belas lobang. Tiba-tiba niatku berumah harus kandas karena ternyata isteriku mengandung anak kedua. Ia tak mau melahirkan di dusun. Ia ingin melahirkan di Jakarta. Mau tak mau aku mengantarnya pulang. Selama 7 bulan kami terpisah jarak. Seluruh dana tabungan aku habiskan untuk isteriku melahirkan dan biaya hidupnya di Jakarta. Aku mengirimkan uang lebih dari cukup setiap bulannya karena aku tak ingin isteriku jadi beban ibunya atau kakanya yang lain. Sejak kandungan tujuh bulan hingga putera keduaku berusia 5 bulan aku baru kembali ke Jakarta untuk melihat anakku. Saat aku melihat anak pertamaku yang sudah hampir masuk usia pra sekolah fikiranku berguncang. Aku harus mengambil satu pilihan yang harus kuputuskan. Sejak itulah bulat tekadku untuk meninggalkan Sungai Keruh dan kepegawaianku.

Tahun 1996 aku lari dari tugasku sebagai Pegawai Negeri Sipil, tepatnya sebagai tenaga pendidik dan tenaga pengajar pemerintah. Aku ingin anakku tumbuh menjadi anak yang pintar. Di dusun tempatku berdiam suasan pendidikan belum sebaik yang aku harapkan. Karakteristik masyarakat ditempat itu belum memberi rangsangan positif pada dunia pendidikan. Maka aku kembali ke Jambi untuk pamit dengan semua orang yang telah bersikap baik kepadaku selama itu, tidak dengan kepala sekolah. Bukan ia tak baik, tapi aku tak ingin niatku berhenti dari kepegawaianku terhalang oleh kewenangannya. Diam-diam aku berpamitan pada teman-teman, orang-orang tua, dan tokoh masyarakat di dusun. Kutinggalkan semua kenangan yang aku punya. Titik air mataku saat kupandang masjid yang telah berdiri kokoh karena perjuanganku dan tokoh masyarakat dusun itu. Masjid ini yang telah mengancam hidupku dari kemarahan orang-orang di dusun induk. Bupati Bungo Tebo (waktu itu ; Abdul Mutholib, SH.) sempat berkirim surat dan meminta proses pembangunan masjid dihentikan karena alasan bahwa aku telah mempermalukan Islam. Kutatantang suratnya dengan merujuk pada kemaslahatan umat dan dasar-dasar ajaran fikih. Camat mencoba menyelesaikan masalah sebagai perpanjangan tangan bupati. Aku bersitegang dengan Kepala Desa, Kepala KUA dan Imam Masjid Besar Desa Sungai Keruh dihadapan Camat. Perundingan tak menghasilkan apapun karena aku tidak bersedia memenuhi permintaan semua orang yang hadir memusuhiku, termasuk permintaan Camat Tebo Tengah (ketika itu ; Achmad Riva’i). Aku juga menolak untuk pembicaraan lanjutan yang diusulkan camat, karena tempat yang ditunjuk bukan tempat dimana persoalan itu lahir. Dua hari kemudian Camat memanggilku menghadap dan ia menyerah kepada kegigihanku. Ia memerintahkanku melanjutkan proses pembangunan masjid yang memang sudah rampung 95 persen. Beberapa miinggu setelah itu aku meminta Camat untuk meresmikan operasionalisasi masjid. Aku ingin Camat mengundang kepala Desa dan semua orang yang memusuhi aku. Camat menyanggupi permintaanku dan ia meminta agar pada acara peresmian nanti aku yang harus menyampaikan laporan pembangunan masjid dan menyentil semua orang yang telah menentang keras upayaku bersama masyarakat di dusunku. Akhirnya aku dapat melakukannya dengan baik. Camat sangat puas dan berkali-kali menepuk bahuku.

Aku sudah berada di Jakarta sebagai pelarian pegawai negeri sipil. Aku bekerja di sebuah perusahaan milik temanku sebagai tenaga Medical Representatif sampai krisis ekonomi muncul yang ditandai dengan peristiwa pembakaran dan penjarahan toko dan perusahaan milik orang-orang Tiong Hoa, 1998.
Dua tahun aku hidup sebagai pengangguran dengan beban isteri dan 2 anakku. Isteriku mengambil langkah penyelamatan ekonomi rumah tangga. Ia berdagang sebatas kesempatan dan sejumlah kecil modal yang kami punya. Aku sudah frustasi mencari kerja. Hari-hariku kuhabiskan di tanah lapang untuk bermain layang-layang. Kulitku terbakar hitam oleh matahari tanah lapang yang garang. Baru pada tahun 2000 aku mendapat pekerjaan kecil. Mengajar disebuah sekolah milik yayasan Islam di belakang terminal Kalideres. Waktu itu aku sambil berdagang. Kocar-kacir aku mencari penghidupan. Setahun saja aku mengajar di sekolah itu karena aku tak suka dengan intrik yayasan. Padahal yayasan malah memberiku jabatan yang bagus. Tapi demi rasa setiakawan dengan hampir semua teman  yang dipecat maka aku menolak pemberian jabatan itu dengan alasan konsentrasi dagang. Kembali aku kehilangan pekerjaan dan berlari di tanah lapang untuk menatap tinggi layang-layang. Tidak berapa lama setelah itu aku dipercaya memimpin organisasi mitra pemerintah kelurahan. Aku takmenginginkan jabatan ketua karena beberapa alasan. Tapi kenyataannya aku yang melaksanakan segalanya. Atas kompetensi minimal yang aku miliki aku diminta bekerja di perusahaan entertainment. Perusahaan yang bergerak dalam bidang pendiudikan dan jasa keartisan. Aku mulai mengenal orang-orang yang biasa muncul dilayar lebar dan layar kaca. Hingga pada suatu saat manajer agency memintaku untuk ikut bermain sebagai figuran dialog sebuah sinetron yang berjudul BUNDA. Bersama Dina Olivia, Tora Sudiro, Meriam Belina, dll. Aku diminta berperan sebagai dokter. Mulailah aku mencicipi dunia akting yang sebelumnya sama sekali tidak kukenal. Satu episode di sinetron Bunda mengundang tawaran buat sinetro lain, yaitu ADA APA DENGAN CINTA. Aku bermain masih sebagai figuran kecil. Disinetron ini aku berperan sebagai Boss Foto Model. Bermain dengan Andika dan Olivia Zalianti. Kemampuan aktingku cukup pesat. Hanya dengan 2 shoot aku berhasil merampungkan adegan itu. Setelah itu aku mendapat tawaran lagi. Kali ini ini jumlah episodenya lebih banyak, pada sinetron YOYO. Sayang pemilik perusahaan tempatku bekerja tak memberi izin atas alasan tugas pokok kantor.padahal aku sudah sangat yakin inilah debutku di dunia akting. Aku mengundurkan diri dari perusahaan entertainment itu. Permintaanku sangat merisaukan pemilik perusahaan. Ia coba menghalangiku dengan memberiku gaji 2 kali lipat dari biasanya. Aku sudah kadung merajuk. Aku berharap bisa bermain sinetron selepas dari perusahaan itu. Tapi apa hendak dikata orang yang selama ini mengajakku bermain tak dapat dihubungi karena hapenya dicuri orang. Sedang hapeku juga hilang dijambret dipekarangan masjid Al-Adzom Kota Tangerang saat aku mengantarkan ibu menunaikan ibada haji. Putus semua kontakku.
Lepas dari perusahaan entertainment aku bekerja diperusahaan distribusi makanan daan minuman ringan, GARUDAFOOD. Enam bulan aku bekerja disitu karena aku mendapatkan tawaran disebuah pabrik kacamata di kawasan industri Pasar Kemis. Di perusahaan itu aku duduk sebagai Wakil Manajer HRD merangkap Purcasing dan Pengawasan Pembangunan pabrik. Saat itu pabrik belum sepenuhnya rampung dan baru sebagian karyawan yang bekerja di pabrik yang baru itu. Lagi-lagi nasib baik tak berpihak padaku. Baru 5 bulan aku menikmati pekerjaan itu terjadi demonstraasi total seluruh karyawan atas kebijakan komisaris yang kontropersial. Seluruh pemilik saham, semua manajer mundur bersama semua karyawan lama. Tinggal aku dan beberapa staf pelaksana lain yang tersisa. Aku sengaja disusupkan sebagai informan oleh pemilik saham. Tapi komisaris perusahaan cepat mencium gejala tak baik itu. Sesuai dengan pesan temanku yang operation manager bahwa aku tetap di dalam selama aku masih dalam jabatan, tetapi silakan mundur jika jabatanku diturunkan. Beberapa hari setelah para pemilik saham, para manajer dan karyawan senior mundur, akupun didepak dari jabatanku. Hari itu juga aku mundur.

Kini aku hanya seorang guru di yayasan yang baru saja kehilangan jabatanku sebagai kepala sekolah. Mungkin aku terlalu polos untuk meneliti siasat orang yang berkedok teman. Sebelum ini aku membantu teman untuk mendirikan sekolah yang secara administratif tidak ia mengerti. Aku membawanya ke pihak berwenang dan kompeten hingga semua berjalan baik dan mulus. Atas apa yang aku lakukan ia ingin menempatkanku sebagai salah seorang pendiri sekolah itu. Tapi dengan halus aku menolaknya, sebab aku tak mengeluarkan dan tak punya andil materi bagi berdirinya sekolah itu. Lantas ia memberiku jabatan sebagai wakil Kepala Sekolah Bidang Umum. Aku katakan, aku tak mengharap apapun dari yang aku lakukan. Aku sudah cukup puas hanya dengan berdiri diluar melihat sekolah itu berjalan. Tapi ia berkeras memintaku untuk menjadi Wakabid Kurikulum setelah dua tawarannya kutolak. Mulailah muncul perasaan tak enak dalam hatiku. Akhirnya aku terima tawarannya karena alasan pertemanan. Ia menawarkan gaji dua kali lipat dari gajiku sebagai Kepala Sekolah disekolah lama asal aku mencurahkan sepenuh waktu sy disekolahnya itu. Aku tak bisa terima itu. Sebab dalam hidup ini aku tidak semata-mata mencari materi. Akirnya dirundingkan kembali dihadapan pejabat berkompeten. Aku mengalah dan harus menerima 3 hari dalam seminggu berada di sekolah baru. Yayasan tempat aku mengajar (lama) mengetahui hal ini dan ia sangat marah padaku. Ia tak mau mendengar penjelasanku. Di bulan Oktober 2012, dua minggu setelah itu aku harus lengser satu tingkat ke bawah. Di sekolah baru akhirnyapun aku berhenti karena teman itu telah menipu. Tunjangan jabatanku tidak dibayarkan sebagaimana perjanjian yang disepakati. Aku hanya menerima kurang dari separuh jumlah yang dijanjikan. Aku menunggu selama 5 bulan kiranya ia akan dikonfirmasikan hal itu. Tapi tidak pernah ia singgung sama sekali. Seperti tak melakukan kesalahan ia berlaku santai di sekolah. Maka sampailah aku pada satu keputusan bahwa sekolah ini harus kutinggalkan kendati aku sudah mengalami banyak kehilangan. Kini aku hanyalah seorang yang telah hancur dan dihancurkan oleh teman sendiri. Aku mengalami kebangkrutan ekonomi keluarga yang sangat parah. aku hampir tak mampu lagi membiayai hidup keluargaku.

Atas semua yang aku alami akhir-akhir ini aku berteriak meminta jawabnMU oh Tuhanku, tidakkah  aku berhak atas kebahagiaan dan hidup yang layak? Kapankah kegembiraan hidup ini aku dapatkan? Bukankah sejak aku kecil ujian itu Engkau timpakan kepadaku? Ampuni aku Ya Robb atas kelancangan pertanyaanku ini... mungkin aku tak pantas untuk bahagia... atau memang aku harus berbahagia hanya dengan keadaanku seperti saat ini... Insya Allah aku terima walau sesungguhnya aku menanti pertolonganmu dengan hati yang mulai lelah....

Jakarta, 10 Maret 2013
Surya Subhan.Catatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentarmu dengan bahasa yang cantik dan santun agar jalinan pertemanan dan persahabatan antar kita semakin kukuh. Komentar yang cantik dan santun adalah pencitraan diri anda pada semua orang, dan itu penting. Terima kasih.